Kisah Kesuksesan Wirausaha Bidang Jasa

Kesuksesan tidak datang dan pergi begitu saja. Di dalamnya penuh dengan onak dan duri yang terkadang membuat segalanya tampak tidak begitu mengenakan. Namun dengan perjuangan yang penuh dengan keikhlasan, kesuksesan akan dapat dicapai. Kesuksesan identik dengan bagaimana seseorang itu mampu menghadapi hidup dan kehidupan ini dengan penuh kesabaran dan kerendahan diri. Sukses tidak saja menuntut kecukupan material namun juga bagaimana kepuasan batiniah dapat tercapai. Inilah kisah-kisah sukses beberapa orang dalam bidang jasa.

 1.             Bambang Harjo Soekartono, diektur Utama Operator Kapal PT Dharma Lautan Utama (DLU)

Indonesia adalah Negara maritime. Namun, usaha operator kapal justru harus berjuang keras supaya tidak semakin ditinggalkan. Agar tidak karam, perusahaan penyedia jasa transportasi laut  PT Dharma Lautan Utama (DLU) terus mencari strategi bru. Siapa tokoh di balik itu ?

Adalah Bambang Harjo Soekartono, generasi kedua yang memegang kendali perusahaan operator kapal terbesar di Indonesia tersebut. Pria kelahiran 16 Januari 1963 itu memulai karir sebagai direktur armada dan operasi. Lalu dilanjutkan dengan memegang tampuk tertinggi sebagai direktur utama DRU saat menginjak usia 41 tahun. Akan tetapi, siapa sangka sepak terjangnya ternyata tidak sesingkat cerita di atas.

Saat tahunpertama orang tua merintis bisnis itu tahun 1976, usia bambang masih 13 tahun. Pada usia yang sangat muda itu, secara tidak langsung bambang ikut menyelami bisnis yang dirintis sang ayah, soekarno. Awal perjalanan bisnis, keluarga bambang menyewa kapal milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Dikisahkan bambang, masa kecilnya dihabiskan di dermaga. Sepulang sekolah dia selalu menyempatkan dating ke dermaga Ujung. Bukan untuk bermain seperti anak sebayanya, tetapi bekerja sebagai seorang karyawan. Sebagai anak pemilik perusahaan, dia tidak merasa rikuh kendati harus berbaur dengan karyawan yang jumlahnya 200 orang. “Sejak kecil saya ingin ikut merasakan susahnya merintis bisnis, “ Tutur penyuka olahraga karate itu.

Diungkapkan bersama pencari penumpang lain, Bambang yang badannya sudah tinggi besar ikut berbaur mencari penumpang. Saat yang lain berteriak, dan memanggil calon penumpang, dia tidak mau kalah dan ikut melambaikan tangan.

Bambang juga pernah menjadi petugas penyobek karcis di pintu masuk kapal. Apalagi petugas penyobek kerap lengah sehingga berpotensi merugikan perusahaan. Dia juga pernah memarkir kendaraan di atas kapal dan membantu maneuver kapal saat bersandar .

Bagi bambang pekerjaan lapangan sangat mengasyikkan. Selama seminggu pun bias sampai 3-4 kalio ia berkunjung ke dermaga, mulai siang sampai petang. Sedangkan pada hari minggu, bias seharian ia berada di dermaga mulai pukul 17.00-21.00 WIB. Orang tuanya sama sekali tidak melarangnya, karena ia sangat bias mengatur waktu belajar dan bekerjanya.

Akan tetapi, belum sempat melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, ayahnya jatuh sakit dan tiada. Usia bambang waktu iu belum genap 17 tahun. Akhirnya bisnis itu dikendalikan ibunya, Soetartini Soekarno. Menginjak bangku kuliah, Bambang lantas memilih masuk jurusan teknik perkapalan ITS. Itu pun tidak terlepas dari saran keluarga.

Dia adalah satu2nya anak dari 6 bersaudara yang menuntut ilmu di jurusan tersebut. Sedangkan lima saudaranya memiliki minat yang berbeda-beda, seperti kakaknya nomor dua memilih jurusan keuangan sehingga sekarang di DLU menjabat di bidang yang memang dikuasi.Kendati pernah mendapatkan pelajaran pada masa kuliah namun bagi Bambang praktik sesungguhnya ada di lapangan.Hal tersebut menuntut ia  dengan meudahnya mengikuti ulasan dosen saat kuliah.

Dalam perjalanan bisnis, DLU diserahkann ke tangan bambang pada tahun 2004. Bambang pada akhirnya dengan segala kepiawaiannya mengendalikan bisnis jasa transportasi kapal laut. Salah satu yang menjadi usulannya ketika menjabat direktur armada dan operasi adalah penggantian SDM. Alasannya, tenaga muda dan handal menjadi salah satu factor yang penting bagi perusahaan agar terus berkembang. Saat ini, jumlah karyawannya menyentuh seribu orang.

 2.        Kisah Sukses Netty Monalita

Kursus yang didirikan perempuan berdarah Padang ini berhasil menelurkan ribuan murid yang kemudian membuka usaha jasa jahitan, kursus, dan butik. Inilah kisah sukses perjalanan ibu Netty Monalita yang lahir di Pekanbaru, 4 Maret 1956 ini.

Bila kebetulan sedang lewat Pasar Sunan Giri di kawasan Rawamangun, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan banyak penjahit membuka usaha di sana. Tak sedikit dari mereka yang merupakan lulusan kursus jahit Monalita, yang terletak di lantai dua pasar itu. Menurut Netty Itawatty, pemiliknya, Monalita sudah meluluskan lebih dari seribu peserta kursus, yang kemudian membuka kursus, butik, atau jasa menjahit.

Sejak kecil, dunia jahit memang sudah tak asing bagi Netty. Sejak usia 3 tahun, ia sudah rajin menggunting kain. Bagian bawah kain gorden, taplak, dan sprei di rumahnya, paling sering jadi sasaran Netty kecil.

Tak berhenti sampai di situ, saat kelas 5 SD Netty yang kala itu ikut tinggal di rumah tantenya di Rawamangun, sudah mampu menjahit baju untuk adiknya dengan mesin jahit. Awalnya mereka tidak percaya, tapi tantenya berhasil meyakinkan mereka karena ia melihat sendiri ketika saya menjahit. Tentu saja Netty kecil belum paham bagaimana membuat pola dan ukuran baju. Untuk membuat pola, saat itu salah satu baju adiknya ia bongkar jahitannya. Potongan-potongan yang sudah ia setrika itu lalu dijiplaknya langsung sebagai pola. Itulah baju yang dibuat Netty untuk pertama kali dalam hidupnya.

Ibunya sendiri pun sempat tak percaya. Semakin banyak orang tak percaya, makin bangga Netty pada baju buatannya.

Kehidupan perekonomian keluarganya yang terbilang susah membuat Netty terpaksa harus diasuh tantenya sejak kecil di kawasan Rawamangun, setelah orangtuanya hijrah ke Jakarta. Dari tantenya lah, Netty belajar banyak hal, terutama kedisiplinan dan kejujuran. Dua hal inilah yang kelak menjadi prinsip hidupnya dalam mempelajari dunia jahit menjahit, dan ketika mengajar di lembaga kursus yang ia dirikan.

Netty kecil tak ingat kapan ia membuat baju untuk kedua kalinya. Semuanya mengalir begitu saja. Yang jelas, menginjak bangku Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pratama (SKKP) selulus dari SD, ia makin rajin membuat baju, terutama untuk dirinya sendiri. Ia pun rajin menimba ilmu dengan ikut kursus menjahit di berbagai tempat.

Umur 18 tahun, Netty mulai serius menekuni hobinya dengan menerima jasa jahitan. Pelanggan pertamanya adalah Ny. Nur Laela, tetangga depan rumah. Sang tetangga lalu rajin meminta dijahitkan baju kepada Netty. Menurut Nur, baju hasil jahitan Netty enak dan pas dikenakan. Setelah Nur, tetangga lain berdatangan jadi pelanggan. Akhirnya, kepandaian Netty menjahit baju mulai menyebar dari mulut ke mulut, sehingga jumlah pelanggannya terus bertambah. Umur 20 tahun, Netty benar-benar serius menekuni dunia jahit menjahit. Setelah beberapa kali menjahitkan baju, Netty mencurahkan seluruh tenaganya dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya.

3.       Kisah Pembersih Kaca Mobil

Bagi orang-orang menengah atas, mengendarai mobil yang bersih, wangi dan terawat mesin dan bodinya merupakan suatu kebutuhan. Mobil, bagi mereka bukan sekedar alat transportasi, tapi sekaligus sebagai simbol prestise dan kebanggan. Tidak heran kalau mereka ingin mobilnya tetap kelihatan bersih dan mengkilap. Sebab itu, untuk membuat mobil tampak cantik, mereka tidak keberatan mengeluarkan kocek minimal Rp 500 ribu setiap kali berkunjung ke bengkel salon mobil. Haji Akbar Sarwono, pemilik dan pendiri salon kecantikan mobil HAS, memang jeli menangkap peluang bisnis.

Di Jakarta adalah lokasi pilihan yang tepat untuk membuka usaha tersebut. Karena perkembangan ibu kota begitu cukup pesat dalam perekembangan jumlah mobilnya, terutama pemilik mobil pribadi. HAS, panggilan akran Haji Akbar Sarwono, kini telah mempunyai lima bengkel di Jakarta yang setiap bulannya didatangi hampir 400 mobil untuk mempercantik interior mapun eksterior mobil. Menurut HAS, jumlah tersebut masih dapat ditingkatkan. Kendala HAS bukan pada pasar, tapi teknis, seperti keterbatasan tenaga kerja dan ruang pembersihan.

Sejak muda, hobi pria kelahiran Surabaya ini adalah merawat mobil.”Saya nekat buka bisnis ini dengan modal dengkul,’ ungkapnya. Bisnis yang kini menghasilkan ratusan juta rupiah per tahun ini bermula dari jasa membersihkan kaca. Pada tahun 1987, Has membuka bengkel pertama, di garasi rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Timur. Kala itu hanya dibantu oleh seorang tukang cuci mobil dan dan menempati sebuah garasi rumahnya yang hanya berkapasitas 2 mobil. Dengan janji kaca buram jadi terang Has memasang tariff Rp 25 ribu  per mobil. Mulanya, ia pesimis bahwa tarif sebesar itu dapat memikat konsumen, karena harga cuci mobilnya sebesar Rp. 3.000. Namun, pada hari pertama beroperasi, bengkelnya menerima tiga mobil.

Melihat respon pasar yang dinilai cukup baik itu, Has membuka lagi bengkel di Pluit. Kali ini garasi rumah orang tuanya, dan hanya dapat menampung satu mobil. Sejak saat itu, Has tak menganggap lagi merawat mobil sebagai hobi. Ia mulai berpikir serius tentang pengembangan bisnis. Karena itu ia terus mempelajari tentang pengembangan binis. Ia terus mempelajari soal kecantikan mobil dengan membaca buku serta mengunjungi pameran-pameran otomotif mobil. Beliau juga mengeluarkan dana cukup besar untuk pergi ke Amerika, di sana Has mengunjungi bengkel-bengkel salon kecantikanmobil dan banyak bertanya tentang bisnis ini. Has semakin mahir dalam bisnis ini. Has menyadari bahwa usaha ini selain tergantung pada jumlah mobil yang beredar juga tergantung pada lokasi. Pada tahun ketiga Has telah berhasil meraih sekitar 200 pelanggan. Selanjutnya Has mencari tempat berusaha yang dapat menampung lebih banyak.  Di tempat yang baru tersebut, Has tidak hanya menawarkan jasa membersihkan kaca mobil, tapi juga mempercantik mobil.

Jasa yang ditawarkan dikemas dalam satu paket, yaitu membersihkan seluruh kaca mobil, mengkilapkan cat, membersihkan seluruh bagian interior, membersihkan dan sekaligus mengkilapkan ban, bumper setang wiper, dan handle pintu mobil, serta menciptakan keharuman di dalam mobil seperti mobil baru.

Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langganannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.

 

4.        Kisah Sukses Surya Paloh  dalam jasa media percetakan

Surya Paloh, 40 tahun, lahir di Tanah Rencong, di daerah yang tak pernah dijajah Belanda. Ia besar di kota Pematang Siantar, Sumut, di daerah yang memunculkan tokoh-tokoh besar semacam TB Simatupang, Adam Malik, Parada Harahap, A.M. Sipahutar, Harun Nasution. Ia menjadi pengusaha di kota Medan, daerah yang membesarkan tokoh PNI dan tokoh bisnis TD Pardede. Aktifitas politiknya yang menyebabkan Surya Paloh pindah ke Jakarta, menjadi anggota MPR dua periode. Justru di kota metropolitan ini, kemudian Surya Paloh terkenal sebagai seorang pengusaha muda Indonesia.

Surya Paloh mengenal dunia bisnis tatkala ia masih Remaja. Sambil Sekolah ia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dll. Ia membelinya dari dua orang ‘toke’ sahabat yang sekaligus gurunya dalam dunia usaha, lalu dijual ke beberapa kedai kecil atau ke perkebunan (PTP-PTP). Di Medan, Surya Paloh mendirikan perusahaan karoseri sekaligus menjadi agen penjualan mobil.

Kesadarannya bahwa dalam kegiatan politik harus ada uang sebagai biaya hidup dan biaya perjuangan, menyebabkan ia harus bekerja keras mencari uang, dengan mendirikan perusahaan atau menjual berbagai jenis jasa. Ia mendirikan perusahaan jasa boga, yang belakangan dikenal sebagai perusahaan catering terbesar di Indonesia. Keberhasilannya sebagai pengusaha jasa boga, menyebabkan ia lebih giat belajar menambah ilmu dan pengalaman, sekaligus meningkatkan aktifitasnya di organisasi.

Menyusuri kesuksesan itu, ia melihat peluang di bidang usaha penerbitan pers. Surya Paloh mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Koran yang dicetak berwarna ini, laku keras. Akrab dengan pembacanya yang begitu luas sampai ke daerah-daerah. Sayang, surat kabar harian itu tidak berumur panjang, keburu di cabut SIUPP-nya oleh pemerintah. Isinya dianggap kurang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Kendati bidang usaha penerbitan pers mempunyai risiko tinggi, bagi Surya Paloh, bidang itu tetap merupakan lahan bisnis yang menarik. Ia memohon SIUPP baru, namun, setelah dua tahun tak juga keluar. Minatnya di bisnis pers tak bisa dihalangi, ia pun kerjasama dengan Achmad Taufik Menghidupkan kembali Majalah Vista. Pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah mengelola koran Media Indonesia. Atas persetujuan Yously sebagai pemilik dan Pemrednya, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas. Penyajian dan bentuk logo surat kabar ini dibuat seperti Almarhum Prioritas. Kemajuan koran ini, menyebabkan Surya Paloh makin bersemangat untuk melakukan ekspansi ke berbagai media di daerah. Disamping Media Indonesia dan Vista yang terbit di Jakarta, Surya Paloh bekerjasama menerbitkan sepuluh penerbitan di daerah.

Lalu, ia masuk ke bisnis pers. Padahal, bisnis pers adalah dunia yang tidak diketahuinya sebelum itu. Kewartawanan juga bukan profesinya, tetapi ia berani memasuki dunia ini, memasuki pasar yang kelihatannya sudah jenuh. Ia bersaing dengan Penerbit Gramedia Group yang dipimpin oleh Yakob Utama, wartawan senior. Ia berhadapan dengan Kartini Grup yang sudah puluhan tahun memasuki bisnis penerbitan. Ia tidak segan pada Pos Kota Group yang diotaki Harmoko, mantan Menpen RI. Bahkan, ia tidak takut pada Grafisi Group yang di-back up oleh pengusaha terkenal Ir. Ciputra, bos Jaya Group.

Kendati kondisi pasar pers begitu ramai dengan persaingan. Surya Paloh sedikit pun tak bergeming. Bahkan ia berani mempertaruhkan modal dalam jumlah relatif besar, dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang tak biasa dilakukan oleh pengusaha terdahulu. Dengan mencetak berwarna misalnya. Ia berani menghadapi risiko rugi atau bangkrut. Ia sangat kreatif dan inovatif. Dan, ia berhasil.

Surya Paloh menghadirkan koran Proritas di pentas pers nasional dengan beberapa keunggulan. Pertama, halaman pertama dan halaman terakhir di cetak berwarna. Kedua, pengungkapan informasi kelihatan menarik dan berani. Ketika, foto yang disajikan dikerjakan dengan serius. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan koran ini dalam waktu singkat, berhasil mencapai sirkulasi lebih 100 ribu eksemplar. Tidak sampai setahun, break event point-nya sudah tercapai.

Ancaman yang selalu menghantui Prioritas justru bukan karena kebangkrutan, tetapi pencabutan SIUPP oleh pemerintah. Terbukti kemudian, ancaman itu datang juga. Koran Prioritasnya mati dalam usia yang terlalu muda. Pemberitaannya dianggap kasar dan telanjang. Inilah risiko terberat yang pernah dialami Surya Paloh. Ia tidak hanya kehilangan sumber uang, tetapi ia juga harus memikirkan pembayaran utang investasi.
Dalam suasana yang sangat sulit itu, ia tidak putus asa. Ia berusaha membayar gaji semua karyawan Prioritas, sambil menyusun permohonan SIUPP baru dari pemerintah. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pemerintah. Beberapa wartawan yang masih sabar, tidak mau pindah ke tempat lain, dikirim Surya Paloh ke berbagai lembaga manajemen untuk belajar.

Pers memang memiliki kekuatan, di negara barat, ia dikenal sebagai lembaga keempat setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif. Apalagi kebesaran tokoh-tokoh dari berbagai disiplin ilmu atau tokoh-tokoh dalam masyarakat, sering karena peranan pers yang mempublikasikan mereka. Bagaimana seorang tokoh diakui oleh kalangan masyarakat secara luas, kalau ia di boikot oleh pers. Dengan demikian, bisnis pers memang prestisius, memberi kebanggaan, memberi kekuatan dan kekuasaan. Dan, itulah bisnis Surya Paloh.

 

5.        Kisah Sukses Guru Yang Menjadi Miliarder Properti

Mantan Guru Bahasa Inggris yang Menjadi Miliarder Properti. Pernah menjadi guru les bahasa Inggris, Cipto banting setir terjun ke bisnis kontraktor. Kini, ia menjadi pemilik Grup Nusuno dengan aset Rp 800 miliar.

Dengan penampilannya yang bersahaja, yang sehari-hari hanya menggunakan kemeja lengan pendek, celana panjang Cipto Sulistyo adalah salah satu pengusaha tob di negeri ini, dia adalah pengusaha properti yang telah membangun banyak property hunian di banyak kota. Memang namanya tidak setenar Ciputra, Trihatma, atau Rudy Margono, namun nama Cipto dengan bendera grup Nusuno tidak dapat dipandang sebelah mata, banyak proyek kelas menengah yang digarapnya dengan aset rata-rata Rp800 miliar.

Di balik kesederhanaannya itu, ternyata Cipto adalah sosok yang workaholic. Kelahiran Jakarta, 3 April 1967, ini mengungkapkan, seandainya dalam sehari ada 36 jam, ia akan lebih banyak mencurahkan waktu untuk bekerja. Baginya, hidup ini adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Dengan kegigihannya itulah, tak mengherankan, ia menjadi orang sukses. Meski tidak dilahirkan dari kalangan keluarga pebisnis, ia mampu membuktikan dirinya bisa menjadi entrepreneur yang cukup diperhitungkan.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional, Jakarta, ini sempat mengajar bahasa Inggris di lembaga kursus LIA dan LPIA. Namun, akhirnya ia pindah jalur menjadi entrepreneur.Ketika memulai bisnis, ia menjadi kontraktor, dan kemudian berkembang menjadi developer kini telah membangun tak kurang dari 9 proyek hunian di Jabodetabek. Selain itu, ia memiliki bisnis institusi keuangan (bank perkreditan rakyat/BPR), lembaga pendidikan, minimarket, pabrik cat, toko material bangunan dan percetakan.

Perjalanan bisnisnya bermula tahun 1990 dengan  nama Nusuno yang awalnya membidangi jasa kontraktor dan konsultan perencanaan bangunan. Dengan bergulirnya waktu Nusuno lambat laun menjadi besar yang rata-rata mengerjakan proyek senilai Rp 4-5 miliar dalam sebulan. Dalam perjalanannya, kedua teman Cipto tersebut tidak aktif dalam pengelolaan perusahaan. Sehingga, dialah yang menjadi nahkoda Nusuno dan selanjutnya menjadi pemilik tunggal.

Setelah sukses menggeluti bisnis kontraktor, Cipto tergiur menjajal bisnis properti. Mula-mula ia melakukan jual-beli tanah dan membangun ruko kecil-kecilan. Tak disangka, setiap transaksi selalu untung. Permodalan diambil dari keuntungan jasa kontraktor sebelumnya. Sayang, masa-masa emas mencetak duit itu tidak berlangsung lama. Tahun 1997, akibat badai krisis moneter, Nusuno limbung dan sempat terlilit utang Rp 15 miliar.

Boleh dibilang, setelah 1997 itu bisnis Nusuno masih kembang-kempis. Sampai akhirnya Dewi Fortuna datang lagi pada tahun 2000-an. Tepatnya, tahun 2004-06, saat booming dunia properti. Momentum itu tidak disia-siakan Cipto dengan memberanikan diri membangun perumahan.

Tahun 2004, Nusuno meluncurkan proyek properti perdana dengan skala medium. Namanya, Perumahan Puri Bintara di Bekasi seluas 6 hektare. Jenis rumah yang dipasarkan mulai dari tipe 64 dengan harga Rp 215 juta/unit. Lagi-lagi Cipto dinaungi hoki: dalam tempo 1,5 tahun, 300 unit rumah ludes diserap pasar. Tak puas cuma menangani Puri Bintara, ia kembali meluncurkan proyek baru bernama Bintara Estate di Bekasi juga. Di atas lahan seluas 1 ha itu, ia membangun town housesebanyak 60 unit dengan harga Rp 250-700 juta tiap unit, yang juga banyak diminati konsumen.

Cipto makin ketagihan membangun beberapa proyek permukiman. Kendati sudah memiliki lima proyek perumahan di Bekasi dan Tangerang dengan skala menengah, Cipto masih haus ekspansi. Sasaran berikutnya adalah membangun perumahan kota mandiri yang menyedot dana lebih gede. Ada dua proyek terbaru: Grand Valley Residence di Depok seluas 33 ha dengan investasi Rp 1,3 triliun, dan kota mandiri Kalimalang Epicentrum seluas 21 ha dengan investasi Rp 800 miliar.

Bisnis apartemen juga dibidik Cipto. Sejauh ini setidaknya dua proyek apartemen telah dikembangkan Nusuno. Pertama, Apartemen Square Garden di Cakung, Jakarta Timur. Apartemen ini memiliki empat tower; satu tower terdiri atas 124 unit dengan harga Rp 109 juta/unit. Yang kedua, Apatermen Eastonia di Jatiwaringin, Pondok Gede, yang berdiri di atas lahan seluas 3 ha.

Cipto menyadari bahwa sebagai private company, kekuasaan masih berpusat di tangan pemilik. Padahal, di luar banyak peluang bisnis yang harus segera ditangani, sehingga prosesnya agak sulit. Jadi, di level manajemen, ia menyarankan, perlu limit tertentu pada kebijakan Cipto. Dengan demikian, sebagian kewenangan penting didelegasikan ke para profesional. Untuk itu, pola manajemen kekeluargaan mesti dirombak.

 

6.        Ligwina Hananto, Pemilik Quantum Magna (QM) Financial

            Diawali kegelisahan dirinya berkaitan dengan gaya hidup keluarga yang punya kecenderungan tidak mempertimbangkan kehidupan keluarga dalam kurun waktu 5 hingga 10 th mendatang. Gaya hidup konsumtif yang tidak lagi menggunakan rasio untuk membelanjakan pemasukan keluarga.  Ligwina juga menggunakan pengalaman pribadinya sebagai keluarga menengah atas yang mempunyai penghasilan bagus namun tidak memiliki rencana keuangan yang bisa menjamin kehidupan keluarga pada masa mendatang.

            Dimulai dari bisnis yang dijalankan dari rumah kini bisnis yang dirintisnya telah mempunyai klien tidak kurang dari 400 orang, dengan biaya jasa 7 juta hingga 70 juta pertahun tergantung dari jumlah aset lancar klien. Menempati kantor di Menara Prima Kuningan dan memiliki belasan financial planer. Kini bisnis ini bukan bisnis rumahan lagi.

            Kesuksesan Ligwina bukan tanpa perjuangan, diceritakan oleh Wina sapaan akrabnya. Dalam kurun waktu 3 tahun dirinya hanya mengelola belasan klien dan itupun berasal dari suami dan sepupunya. Wina mengisahkan pertama merintis bisnis ini pada tahun 2003 ia mengirimkan 100 sms penawaran jasa perencanan keuangan, hanya beberapa yang menjawab dan sebagian orang justru mentertawakannya. Akhirnya ada seorang atlet basket yang mempercayakan perencanaan keuangan padanya, hingga kini Atlet ini masih mempercayakan perencanaan keuangannya pada QM Financial.

            Dikisahkan oleh Wina diawali kepeduliannya pada pola pengunaan keuangan di masyarakat yang cenderung hanya berfokus pada konsumsi, tidak mengarah pada investasi dan perencanaan masa tua. Disini Wina mendapat tantangan yang cukup berat karena banyak orang tidak menyadari pentingnya mempersiapkan hari tua namun belum banyak yang berniat mulai melakukan persiapan selagi masih produktif. Kemudian tahun 2004 bersama 2 teman sekolahnya di IPMI Business School, bisnis ini mulai lebih serius meski belum menempati kantor khusus. Ditahun 2005 layanan jasa ini secara resmi dinamakan  Quantum Magna Financial. Pada periode ini masih belum banyak klien yang dimiliki. Dengan semangat mereka terus menjalankan bisnis ini.

Menyadari kliennya kebanyakan dari kalangan muda dan semuanya adalah pendengar radio maka muncul niat dari Wina untuk siaran di Radio. Berbekal data semua kliennya adalah pendengar Hard Rock FM maka ia pun menawarkan diri untuk  siaran tentang perencanaan keuangan di Hard Rock FM. Siaran radio ini yang menjadi titik balik bisnis, terjadi pada 2006. Diri sini, klien Wina berdatangan bukan hanya di Jakarta namun juga dari Surabaya, Bandung, Pekanbaru, Riau bahkan Papua.

            Ligwina Hananto menyelesaikan pendidikannya di Finance & Marketing Curtin University of Technology Australia kemudian untuk memperdalam perencanaan keuangan ia mengikuti beberapa pelatihan perencanaan keuangan dan menyelesaikan Master of Business Administration IPMI Business School Jakarta. Kini Wina tidak hanya siaran radion di Hard Rock FM namun sekaligus di beberapa radio. Ligwina mempunyai jargon dalam diskusi keuangan yaitu tujuanloapa. Dengan kata tanya pendek ini, Wina mengajak setiap orang yang diajak bicara untuk mulai memikirkan apa tujuan keuangan yang ingin dicapainya dalam beberapa tahun kedepan apakah itu tujuan pembelian rumah, tujuan dana pendidikan, tujuan dana pensiun.

            Bagi Ligwina bisnis perencanan jasa keuangan ini bukan semata mencari keuntungan karena kalau hanya mencari keuntungan dirinya sudah lama menutup bisnis ini karena dalam waktu hampir 3 tahun pertama belum menunjukan keuntungan. Baginya penting bagi keluarga di Indonesia untuk memperkuat landasan keuangan keluarga. Keuangan keluarga harus mulai memasuki pasar investasi, bukan hanya membuat aman kehidupan keluarga pada masa yang akan datang tapi juga memperkuat modal pasar saham dalam negeri.

 

7.        Kisah Sukses Mochtar Riady, Seorang praktisi perbankan bergerak dalam bidang jasa keuangan

Mochtar Riady lahir di Malang pada tanggal 12 Mei 1929. Riady sudah bercita-cita menjadi seorang banker di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady disebabkan karena setiap berangkat ke sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk

Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking .Namun, karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia. Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas. Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil.

Sampai saat itu,Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, di setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut. Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut,namun sia sia, lalu dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti.

Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Pak Andi Gappa, tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi.

Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat. Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Mochtar Riady hampir selalu sukses dalam mengembangkan sebuah bank, dia memiliki filosofi tersendiri yang ia sebut sebagai Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter yang baik, Lian adalah kejujuran sedangkan Dje adalah memiliki rasa malu. Visi dan pandangan Riady yang jauh ke depan seringkali membuat orang kagum, dia dapat dengan cepat membaca situasi pasar dan dengan segera pula menyikapinya.

Salah satu contohnya ketika dia berhasil menyelamatkan Bank Buana tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis karena Indonesia berada pada masa perubahan ekonomi secara makro, ketika itu Riady sedang berkuliah malam di UI, disitu dia dikenalkan dengan beberapa pakar ekonomi seperti Emil Salim, Ali Wardhana,dkk. Riady segera sadar dan segera mengubah arah kebijakan Bank Buana.

Pertama, dia menurunkan suku bunga dari 20 % menjadi 12 %, padahal pada waktu itu semua bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut maka para nasabah yang memiliki kredit yang belum lunas segera membayar kewajibannya. Sedangkan para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat khususnya dalam hal jaminan, namun karena bunga yang ditawarkan Bank Buana sangat rendah dibanding yang lain maka banyak debitur yang masuk dan tak ragu untuk memberikan jaminan. Dengan cara itu Bank Buana menjadi sehat padahal pada waktu itu banyak klien dan bank yang bangkrut. Dengan otomatis orang mengenal siapa Mochtar Riady.

Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin. Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni :

  1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas
  2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.
  3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi.
  4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.

8.        Muhadi, pengusaha bus Dedy Jaya

Dulu Kondektur sekarang Bos. Itulah yang pantas diucapkan bagi Muhadi, lewat kerja keras dan keuletan. Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga took bangunan.

            Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini membuahkan hasil. Grup usaha PT. Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Brebes, Tegal & Pemalang.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya.  Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya bertani di sawah.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti pada 1981. “Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah,” tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. “Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan,” tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. “Kekurangannya saya pinjam dari bank,” ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.

Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.

Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden.  Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang.

9.         Bambang Bhakti,pengusaha jasa perumahan yang sukses sekaligus dermawan

 Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

 “Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya. Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

 

10.         Kisah Sukses irawan Purwono, inspirator bagi enterprenuer pemula

Kisah tentangnya sebagai wirausahawan sukses yang berhasil memulai bisnis dari puing-puing kegagalan, telah mendorong sekaligus menyemangati para pebisnis pemula untuk berani memulai usaha. Irawan Purwono adalah seorang entrepreneur yang memiliki inspirasi yang kuat dalam berbisnis, sehingga namanya sangat layak untuk disejajarkan dengan para pempimpin perusahaan terkemuka dunia lainnya.

Bahkan, nama Irawan Purwono selaku Chief Executive Officer (CEO) PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet) pernah masuk sebagai finalis World Entrepreneur of The Year (WOEY) Tahun 2004, sebuah gelanggang pertemuan tahunan para pemimpin tertinggi perusahaan-perusahaan terbaik dunia yang digelar oleh Ernst&Young di Monte Carlo, Monaco.

Ajang unjuk prestasi serta pemaparan semangat dan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) para CEO dari seluruh dunia, khusus di Indonesia penilaian para finalisnya dilakukan oleh sejumlah anggota Dewan Juri yang sudah dikenal piawai dan kompeten di bidangnya.

Irawan Purwono kelahiran Semarang 7 September 1960 lantas membeberkan secara terbuka semua kisah perjalanannya berbisnis berikut pasang-surut dan gagal-kisah sukses perjalanan perusahaan PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet), sebuah entitas bisnis baru yang secara khusus menyediakan jasa pelayanan solusi total sistem integrasi jaringan komputer.

Integrasi sistem jaringan komputer antara lain berfungsi sebagai infrastruktur jaringan komunikasi dan informasi data bisnis dalam satu gedung (local areas network), hingga yang lebih luas antar gedung atau antar benua (wide area network).

Irawan Purwono, seorang insinyur teknik elektro lulusan ITB Bandung (September 1986), di hadapan dewan juri juga membuka semua kinerja keuangan perusahaan berikut unsur-unsur inovasi dan ide orisinil yang dimiliki membangun bisnis. Demikian pula misi dan visi perusahaan yang didirikan oleh ayah tiga orang anak lelaki ini dalam mendirikan CompNet, hingga kini dikenal sebagai sebuah sistem integrator jaringan komputer terkemuka Indonesia.

Irawan juga mengutopiakan mimpi untuk membawa perusahaan menjadi sekelas MNC (mutinational companies), yang berbasis di Indonesia namun beroperasi di berbagai negara. Irawan Purwono memang belum berkesempatan untuk terpilih dan berangkat ke Monaco, mewakili Indonesia dalam forum World Entrepreneur of The Year (WEOY) yang dilangsungkan setahun kemudian pada 28 Mei 2005 di Monte Carlo, Monaco. Akan tetapi, ketika namanya diumumkan menjadi finalis saja sudah banyak kolega dan rekan-rekan bisnis yang kadung dengan segera memberikan ucapan selamat kepada Irawan, baik melalui telepon maupun SMS. Salah satu bunyinya, yang terbanyak terekam, antara lain, “Congratulations,

Irawan pun mahfum menjadi entrepreneur terkemuka rupanya bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya revenue perusahaan, kapitalisasi, modal yang dimiliki, atau semata-mata hanya terbatas bagi para konglomerat yang sudah berhasil dan malang melintang di dunia bisnis. Melainkan bagaimana sesungguhnya kegigihan para pendiri dalam membangun usaha, dan apa semangat yang menjiwai pengelolaan perusahaan hingga berhasil. Dan, justru ini menurut Irawan yang lebih terutama, apa saja inspirasi baru yang dapat ditawarkan oleh sang entrepreneur sampai-sampai bisa menulari banyak orang untuk berani terjun menjadi wirausahawan sejati.

Irawan Purwono awalnya bergerak hanya bersama lima orang sahabat, sebagai pendiri dan pemilik perusahaan saat memulai PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet) Maret 1997, persis beberapa bulan sebelum krisis ekonomi berskala multidimensional melanda Indonesia.

Bisa dibayangkan, dalam kalkulasi bisnis saat itu adalah mustahil sebuah perusahaan yang baru berdiri apalagi memiliki komitmen kuat untuk hanya bergerak fokus pada bidang penyediaan jasa solusi total sistem integrasi jaringan komputer, dapat bertahan.

Sebab semua perusahaan yang potensial menjadi customer kekuatan daya beli dan determinasi mereka benar-benar sedang menghilang. Seperti kalangan perbankan, yang kebanyakan sudah dimasukkan ke program penyehatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Tetapi dengan semangat kewirausahaan yang tinggi Irawan berhasil memompa daya juang para karyawan yang jumlahnya masih terbatas, agar memiliki sikap yang tangguh dan keahlian yang tinggi, serta dapat dipertanggungjawabkan untuk membangun kepercayaan pelanggan.

Karena solusi sistem integrasi jaringan yang dibangun dimaksudkan untuk membuat pelanggan dapat menjalankan roda bisnis perusahaan menjadi lebih cepat, CompNet, yang menyediakan solusi justru di tengah-tengah krisis ekonomi yang sedang melanda, pada akhirnya dapat bertahan bahkan segera berhasil meraih kepercayaan pelanggan dalam waktu singkat.  Irawan Purwono, alumni ITB Bandung Jurusan Teknik Elektro yang diwisuda pada bulan September 1986, membangun CompNet nyaris dengan modal yang terbatas. Modal utama sesungguhnya adalah keinginan besar untuk menjadi seorang wirausahawan sejati yang disegani di berbagai negara.

 “Saya tahu karena saya pernah kerja di sana,” ujar Irawan, yang memiliki rasa kebanggaan luar biasa sebagai engineer saat masih bekerja di PT Metrodata Electronics.

“Waktu itu bekerja di Metrodata bangga sekali. Semua bule didatangin sama dia (Ciputra, maksudnya –Red), disuruhnya datang ke ulang tahun Metrodata,” kata Irawan.

Walau CompNet merupakan pendatang baru, karena memiliki keberanian yang luar biasa pada akhirnya Irawan Purwono berhasil menembus barikade bisnis yang dipasang para konglomerat tadi. Sebab sistem integrator yang secara fokus digeluti CompNet lebih mengandalkan keterampilan dan keahlian tingkat tinggi berstandar internasional, bukan mengandalkan kapital besar atau sumberdaya manusia massif berbiaya mahal.

Irawan memperoleh keberuntungan lain memilih bisnis TI yang masih nonregulated sehingga ada kebebasan untuk berkompetisi secara sehat atau free competition.
Bisnis TI hanya membutuhkan 4-C yaitu company yang menjual jasa, customer yang membeli jasa, chain sebagai jaringan pemasaran jasa, dan competition yang memberi kebebasan berkompetisi menjual jasa secara fair.

Bisnis model TI berbeda misalnya dengan perusahaan listrik yang hanya memerlukan 2-C, yaitu company yang menjual listrik dan customer masyarakat sebagai pelanggan pembeli listrik. Salah satu poinnya, mengorbankan salah satu aspek dari organisasi yang dimiliki untuk menciptakan image yang mudah diterima pelanggan.

Memiliki kantor operasional di Jakarta, Semarang, dan Surabaya CompNet menyediakan jasa ke semua bidang industri vertikal seperti industri perdagangan, manufaktur, perbankan, minyak dan gas hingga lembaga-lembaga pemerintah yang berkehendak membangun sistem integrasi jaringan komunikasi dan informasi data.

            Demikianlah beberapa kisah pengusaha sukses yang sudah mampu menerapkan prinsip dan karakteristik kewirausahaan. Satu hal yang dapat kita petik dalam kisah tersebut di atas adalah bagaimana dalam hidup ini kita harus berjuang dengan segala cara, teknik dan strategi yang kita punya unuk bisa bersaing terutama dalam bidang bisnis, baik bisnis yang berorientasi kepada laba maupun non laba. Sejatinya kesuksesan tidak ada yang mudah dan lancer dalam perjalanannya. Banyak sekali hambatan-hambatan dan tantangan-tangan dalam melakoninya. Terkadang kita harus gagal dalam mencapai kesuksesan, namun harus diyakini bahwa kegagalan adalah pelajaran bagi kita untuk terus berkarir, karena kegagalan sejatinya adalah suatu kesuksesan yang tertunda.

Kesuksesan bukanlah milik orang-orang yang berpendidikan, siapa saja yang ingin hidupnya sukses harus bekerja keras, ulet, berani menanggung resiko, bertanggungjawab, dan tidak mudah patah semangat dan berputus asa. Itulah prinsip kewirausahaan yang sejati.

 

Posted on December 7, 2011, in Miscellaneous and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. korban Cipto Sulistyo

    Tapi bukan Cipto Sulistyo dari PT Nusuno Karya , anda coba berbisnis dengan dia, pasti bukan win-win solution, namun air mata, karena ada puluhan korban yang di hancurkan, oleh kepolosan tampang nya tidak sebading dengan kekejaman nya, cobalah anda datang ke kantor nya, ada banyak orang di susahkan oleh nya berikut preman berbayar yang di kordinir Umar Key CS, sungguh saya bersumpah demi Allah SWT, mudah2an tidak ada korban berikut nya, terlebih biarlah sdr Cipto Sulistyo yang tidak beragama tinggal menunggu azab Allah SWT. silahkan anda mencoba jika ini hanya sekedar fitnah belaka….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: