Guru sebagai Pembimbing

Guru dewasa ini berkembang sesuai dengan fungsinya, membina untuk mencapai tujuan pendidikan. Lebih-lebih dalam sistem sekolah sekarang ini, masalah pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan tenaga pengajar perlu mendapat perhatian yang serius. Bagaimanapun baiknya kurikulum, administrasi, dan fasilitas perlengkapan, kalau tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas guru-gurunya tidak akan membawa hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, peningkatan mutu tenaga-tenaga pengajar untuk membina tenaga-tenaga guru yang profesional adalah unsur yang penting bagi pembaruan dunia pendidikan.

Salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh guru di sekolah adalah memberikan pelayanan kepada para siswa agar mereka menjadi siswa atau anak didik yang selaras dengan tujuan sekolah. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang miliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini, guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu, karena antara satu peserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan mendasar. Oleh karena itu melalui bidang pendidikan, guru mempengaruhi aspek kehidupan, baik sosial, budaya maupun ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang bertugas sebagai pendidik. Guru memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakannya sebagai guru.

Yang dimaksud sebagai peran adalah pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri khas semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Guru harus bertanggungjawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain : guru harus mampu menciptakan situasi kondisi belajar yang sebaik-baiknya.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat. Dalam keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama, guru memegang berbagai jenis peran yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, bimbingan merupakan suatu upaya untuk membantu para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah.

Guru sebagai pembimbing dalam pembelajaran dituntut untuk mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan instruksional, akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi dalam proses belajar mengajar berlangsung. Pendekatan pribadi semacam ini akan secara langsung mengenal dan memahami mudrid-muridnya secara lebih mendalam, sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.

Ada beberapa macam bimbingan yang dilakukan oleh seorang guru, diantaranya :

  1. Bimbingan belajar, yang perlu diperhatikan adalah mengenai procedural sekolah dan masalahnya, bagaimana kalau tidak masuk sekolah, bagaimana memakai fasilitas sekolah termasuk menggunakan ruang perpustakaan dan lain sebagainya.
  2. Bimbingan penyelesaian, memberikan kesempatan kepada anak untuk mampu menyelesaikan setiap permasalah yang dialami dengan mandiri dan bertanggungjawab.
  3. Bimbingan pekerjaan, dimana anak supaya dibimbing dalam hal pengetahuan mengenai bermacam-macam pekerjaan yang ada dan mampu membuat pilihan yang ada dalam hubungannya dengan masa depan.
  4. Bimbingan karir, dimana seorang guru mampu mengarahkan anak dan membimbingnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga karir anak bisa ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan baik secara individu maupun berkelompok.
  5. Bimbingan sosial dan pribadi, yang berhubungan dengan kesulitan psikologi yang dialami anak.

Sebagai pembimbing dalam proses pembelajaran di sekolah, guru harus mampu untuk :

–    Mengenal dan memahami setiap peserta didik, baik secara individu maupun secara kelompok.

–    Membantu tiap peserta didik dalam mengatasi masalah pribadi yang dihadapinya.

–    Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa baik secara individu maupun secara kelompok untuk memperoleh

saling pengertian tentang pendidikan anak.

–     Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu.

–      memberikan kesempatan yang memadai agar tiap peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya.

–       Meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah.

–       Mengevaluasi keberhasilan rancangan acara pembelajar dan langkah kegiatan yang telah dilakukannya.

Dalam hubungannya dengan bimbingan dalam proses belajar mengajar, maka guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.

Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut yaitu :

  1. Merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Dengan menetapkan tujuan dan pengidentifikasian kompetensi yang baik diharapkan guru mampu memberikan bimbingan dalam proses belajar mengajar (PBM) di kelas yang kondusif.
  2. Melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
  3. Melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
  4. Memaknai kegiatan belajar dan mengusahakan agar imajinasi anak didiknya turut aktif dalam proses belajar mengajar. Untuk mempelajari sesuatu, seseorang harus berpikir. Ada dua proses berpikir dasar, yaitu proses “meneruskan” dan “menghubungkan”. Meneruskan, berarti melanjutkan, menuntut adanya sesuatu yang diteruskan. Sedangkan menghubungkan berarti memulai dengan dua gagasan yang terpisah dan berusaha menemukan jalan untuk menghubungkan keduanya.
  5. Melaksanakan penilaian atau evaluasi. Hal ini perlu dan sangat berarti, baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri. Lewat evaluasi, seorang siswa dapat mengetahui sejauh mana ia berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Jika hasilnya memuaskan dan menyenangkan, tentu ia ingin memperolehnya lagi pada kesempatan lain. Akibatnya, motivasi siswa untuk belajar akan semakin besar.

Untuk dapat berperan sebagai pembimbing yang efektif dalam pembelajaran, seorang guru dituntut memiliki kemampuan (kelebihan) dalam kompetensinya sebagai guru yang profesional. Dalam hal ini maka guru setidaknya dapat menimbulkan minat dan semangat dan menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam bidang studi yang diajarkan. Guru juga dituntut memiliki kecakapan dalam hal memimpin anak didiknya dan dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pekerjaan praktis dalam dunia nyata.

Referensi :

  1. H. Hamzah B. Uno. 2009. Profesi Kependidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Posted on December 7, 2011, in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: